Meraih kemenangan di 1 Syawal
Oleh : Teddy Lahati, SHI[1]

KHUTBAH 'IDUL FITRI 1433 H
السَّـلاَمُ
عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَ كَـاتُهُ
اللهُ أكْبَرُ ×9. لآاِلهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ وَ ِللهِ
الْحَمْدُ. الْحَمْدُ ِللهُِ حَمْدَالشَّاكِرِيـْنَ, حَمْدَالنَّاعِمِيْنَ وَ
الْعَاقِـبَتُ لِلُمُتَّـقِيـْنَ وَ لاَعُدْوَانَ اِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْـنَ.
أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْـكَ لَهُ, وَاَشْهَدُ
اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَ صَحْبِهِ
اَجْمَعِيـُنَ. اَمَّـا بَعْدُ, فَيَا عِبَـادَ اللهِ! اِتَّـقُ اللهَ وَ كُوْنـُوا مَعَ
الصَّـادِقِيـْنَ.
اللهُ أكْبَرُ ×3, وَ ِللهِ الْحَمْدُ!
Ma’asyiral
Muslimin wal muslimat Rahimakumullah!
Hari ini Umat Islam di seluruh dunia tengah
merayakan Hari Raya Idul Fitri. Lantunan takbir, tahmid, dan tahlil yang
mengagungkan asma Allah berkumandang menyambut hari raya ini. Jutaan manusia,
dari berbagai etnik, suku, dan bangsa di seluruh penjuru dunia, mengumandangkan
takbir, tahmid, dan tahlil, sebagai refleksi rasa syukur dan sikap kehambaan
mereka kepada Allah SWT
Tidak ada perpisahan yang lebih mengharukan dari
pada perpisahan dengan Ramadhan. Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah. Di
dalamnya kita semua dihantarkan secara perlahan menuju titik fitrah. Titik
penciptaan kita yang bersih dan suci. Allah Sang Pencipta tidak pernah
bermaksud buruk ketika pertama kali menciptakan manusia. Karena itu tidak
mungkin manusia mencapai kesempurnaan dirinya tanpa kembali ke titik asal
diciptakannya. Itulah titik di mana manusia benar-benar menjadi manusia. Bukan
manusia yang penuh lumuran
dosa
dan kekejaman. Bukan manusia yang dipenuhi gelimang kemaksiatan dan kedzaliman.
Allah swt. menurunkan Al Qur’an untuk menjadi pedoman agar manusia tetap
komitmen dengan kemanusiaannya. Yaitu manusia yang saling mencintai karena
Allah, saling memperbaiki menuju keimanan sejati, saling tolong menolong menuju
peradaban yang kokoh, saling membantu dalam kebaikan bukan saling membantu
dalam dosa dan kemungkaran. Allah mengutus nabi-nabi sepanjang sejarah sebagai
contoh terbaik bagaimana menjalankan kewajiban
kepadaNya.
Tidak ada keselamatan kecuali ikut jejak para Nabi. Dan tidak ada keberkahan
kecuali bersungguh-sungguh menjalankan ibadah seperti yang para Nabi ajarkan.
Itulah tuntunan fitrah. Bahwa setiap manusia tidak akan bisa kembali ke titik
fitrahnya tanpa mengikuti ajaran yang disampaikan para Nabi.
Allahu akbar 3x walillahil hamdu
Hadirin,
Ramadhan kini telah berlalu, bulan yang penuh berkah telah pergi meninggalkan
kita semua, bulan yang penuh ampunan telah melambaikan tangannya untuk kita,
bulan yang membebaskan dari api neraka telah kembali menghadap Allah melaporkan
amal-amal kita. Tidakkah kita merasa telah kehilangan Ramadhan, kehilangan
bulan yang mulia. Menetes air mata Rasulullah ketika akan berpisah dengan
Ramadhan,terpancar kesedihan dari raut wajah Beliau ketika akan berpisah dengan
Ramadhan. Sungguh, kalau kita merasakan apa yang dialami Rasulullah kita pasti
akan merasakan hal yang sama. Betapa tidak, akankah kita menjumpai Ramadhan
yang akan datang? Adakah Allah akan kembali menghapus dosa-dosa kita dengan
keistimewaan Ramadhan? Adakah kita akan bertarawih bersama? membaca Al-Qur’an
bersama? Mudah-mudahan Allah swt akan mempertemukan kita kembali dengan
Ramadhan.
Masih
teringat dalam benak pikiran kita semua, ketika menjelang Ramadhan beramai-
ramai orang mendatangi kuburan orang tuanya. Membersihkan kuburan ayah, kuburan
ibu dengan mengusap-mengusap batu pusaranya, memandang namanya dengan penuh
kerinduan, seolah-olah kita memandang wajahnya dengan senyuman. Selanjutnya
kita mengirimkan mutiara-mutiara doa, untaian kata-kata untuk memohonkan
ampunan terhadapnya “ALLAHMMAGFIRLAHU WARHAMHU WA’AFIHI WA’FUANHU” Ya Allah
ampunilah dia, kasihanilah dia, dan maafkanlah segala kesalahan-kesalahannya.
Pada
hari ini, kita berhari raya. Bergembira menyambut hari kemenangan, menang dari
mengalahkan hawa nafsu. Nafsu yang telah digembleng selama sebulan penuh dengan
penuh keimanan yang mantap kepada Allah swt. Hari ini semuanya bersuka cita,
merayakan idul fitri. Kita semua bagaikan bayi yang baru dilahirkan.putih, suci
yang tidak ada setitik dosa. Inilah janji Allah yang telah Allah sampaikan kepada
Nabi Muhammad saw, “BARANG SIAPA YANG BERPUASA DIBULAN RAMADHAN DENGAN PENUH
KEIMANAN DAN MENGHARAP PAHALA DARI ALLAH SWT, MAKA DOSA-DOSANYA AKAN DIAMPUNI
OLEH ALLAH BAGAIKAN BAYI YANG BARU DILAHIRKAN. Kita semua menyambut hari ini
dengan penuh kebahagiaan, mengenakan pakaian yang indah, memakai harum-haruman,
rumah dibersihkan untuk menyambut tamu yang akan bersilaturrahmi. Hidangan
sudah dipersiapkan untuk menjamu tamu yang akan datang seraya saling
mengucapkan “MINAL A’IDIN WAL FAIDZIN” mohon maaf lahir dan batin.
Dari
rasa yang bahagia itu, kita telah melupakan orang-orang disekitar kita yang
tidak mampu. Ada anak yang kehilangan orang tuanya sejak kecil, mereka tidak
lagi merasakan indahnya kasih sayang dari ayah ibunya. Dia hanya bisa terdiam
tanpa kata-kata, hanya air mata yang menetes dari kedua bola matanya ketika
melihat teman-temannya mengenakan baju yang baru, sepatu yang baru. Tidak ada
tempat untuk bermanja, untuk mengadu dibelikan baju yang baru ataupun sepatu
yang baru. Di sudut sana juga terlihat ibu-ibu janda yang tidak punya persiapan
untuk menyambut hari kemenangan ini, tidak ada tempat untuk meminta uang tuk
membuat kue-kue dan masakan demi kebahagiaan hari kemenangan. Masih banyak
orang-orang disekliling kita pada hari ini tidak bergembira dalam merayakan
idul fitri. Rasulullah saw bersabda : “SAYANGILAH PENDUDUK YANG ADA DI BUMI
NISCAYA PENDUDUK LANGIT AKAN MENYAYANGIMU” dalam sabda yang lain “ORANG YANG
MENGURUS JANDA DAN SI MISKIN, SEPERTI ORANG YANG BERJUANG DIJALAN ALLAH.
Allahu akbar 3x walillahil hamdu
Hari
ini adalah hari yang diberkahi, dimuliakan, dan merupakan hari magfirah ampunan
Allah swt. Untuk itu marilah kita
sama-sama mengintrospeksi diri terhadap kesalahan dan dosa-dosa kita,
baik kepada sesamanya maupun dosa kita kepada Allah swt. Dengan demikian,
mudah-mudahan puasa yang telah kita laksanakan sebulan lamanya menjadi wasilah
untuk mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat. Amin
Ramadhan
1433 Hijriyah telah meninggalkan kita semua, tanda berpisah telah diisyaratkan
oleh cahaya merah yang membentang diufuk barat. Setelah sang bahtera surya
membenamkan diri keperaduannya, seakan-akan ia mengucap, selamat tinggal wahai
ummat Muhammad, selamat tinggal wahai orang-orang yang berpuasa, semoga kamu
sekalian dalam rahmat dan magfirah Allah yang Maha Kasih dan celakalah bagi
yang tidak berpuasa, mereka akan ditimpa dengan murka dan adzab Allah
Tatkala
fajar 1 syawal menyingsing dini hari tadi, budi akal dan fikiran kita bertukar
rasa dengan datangnya hari yang bahagia ini, berbagai kesan dan perasaan yang
sangat mendalam didalam jiwa kita masing-masing, datangnya hari ini kita sambut
dengan rasa syukur dan gembira, bahagia dan sukacita karena dapat menunaikan
menyelesaikan tugas yang mulia, kita yakin dengan janji Allah dalam firmannya :
“Puasa itu untukKu dan Aku sendirilah
yang akan membalasnya”
Kegembiraan
kita, karena dapat menunaikan tugas suci yang sangat mulia. Dalam sebuah hadits
digambarkan “betapa dahsyat perang Badar, suatu peperangan yang sangat
menentukan apakah Agama Islam akan tetap hidup, atau akan hilang dan tenggelam
dalam debu sejarah. Perang badar adalah peristiwa yang sangat penting dalam
sejarah islam yang masih muda saat itu.
Peristiwa
ini digambarkan oleh Rasulullah saw sebagai perjuangan yang kecil, sedang puasa
adalah perjuang yang besar, perjuangan
yang lebih menentukan, perjuangan menaklukkan diri sendiri, melawan gejolak
hawa nafsu yang sedang menguasai setiap diri
Dari
pengalaman hidup sehari-hari kita semua merasakan bagaimana sukarnya, sulitnya berhadapan
dengan diri sendiri, sehingga perjuangan terhadap dunia yang berada diluar diri
kita itu adalah suatu tugas yang mudah, sebabnya karena diri itu dihiasi dengan
berbagai macam keinginan terhadap duania, sehingga melupakan nilai-nilai yang
lebih baik, lupa kepada cita-cita yang luhur, lupa memupuk martabat Insan
Kamil, sebagai manusia yang memiliki kepribadian yang tianggi dan Mulia
Sepanjang
bulan Ramadhan kita telah melaksanakan kewajiban-kewajiban yang sesuai dengan
petunjuk Allah lewat ajaran ibadah Puasa. Pada hari bahagia ini, dan pada hari
kemenangan ini, umat Islam keluar dengan penuh kebanggaan, kesuksesan dan
kebahagiaan, sambil mengumandangkan takbir memuji dan mengagungkan Allah swt
sebagai tanda syukur padaNya
Kewajiban
yang berat dan mulia itu, telah kita tunaikan dengan “imanan wahtisaban”, hari
ini umat Islam yang telah menunaikan puasa Ramadhan bagaikan bayi yang baru
dilahirkan dari rahim ibu. Suasana gembira yang mengandung hikmah saat ini
adalah anugerah terindah yang diberikan Allah Sang Maha Agung
Kita
telah keluar dengan predikat Muttaqien yang kita peroleh pada bulan Ramadhan,
oleh karena itu sifat dan sikap kita didalam melanjutkan hidup dan kehidupan,
sudah barang tentu lebih menjaga dan meningkatkan Iman dan Taqwa kepada Allah
swt, hakikat sabar yang diraih dari puasa hendaklah dijadikan landasan yang
kokoh dalam menghadapi tantangan dan rintangan.
Sebulan
penuh umat ini ditata, ditempah, dibina dan digembleng untuk menjadi manusia
muttaqien, siap dalam segala suasana, bagaikan tonggak bertuah, condong ia tak
menaur, tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan, itulah ummat Muhammad
saw yang disebut mu’minin dan mu’minat, ummat yang satu yang menguasai separuh
dari isi surga, ummat yang paling awal memasuki surga, disebabkan karena mereka
telah menunaikan ibadah puasa, dan pada
hari ini, mereka didoakan oleh malaikat yang berada di langit dan di bumi
Sidang Id Rahimakumullah
Sambil
mengulurkan tangan, kita saling maaf memaafkan, hilanglah silang sengketa, kita
hapusakan rasa dendam dan hasud di dalam dada, agar benar-benar menjadi manusia
fitrah, menjadi manusia yang bagaikan baru dilahirkan seorang ibu.
Para
perantau dan pengembara muslim yang berbulan-bulan, bertahun-tahun, mencari
rizki, dan mengadu nasib di tanah orang,mereka segera pulang ke kampung
halaman, dengan harapan mereka dapat berkumpul dengan seluruh keluarganya,
berkumpul bersama ayah, ibu, adik, kakak, anak dan isterinya serta bersama
kerabat dan handai taulan, mereka pulang dengan perasaan lega gembira, karena
hari ini adalah hari bahagia, hari kunjung mengunjungi, berpeluk-pelukkan
diantara sanak family, handai taulan.
Tugas
suci telah selesai dikerjakan hanya untuk meraih keridhoan Allah swt, gembira
dan hikmah ini, sangat terasa bagi orang yang berpuasa, pandangan dan rahmat
kasih sayang Allah swt tercurah dalam kalbu mereka, pancaran sinar Iman dan
takwa terlukis dan terukir diwajah bagaikan purnama raya yang memancarkan
cahaya diufuk timur
Allahu akbar 3x walillahil hamdu
Idul fitri artinya
kembali kepada kesucian, laksana bayi yang baru lahir kedunia, bersih dari
segala noda dan dosa. Oleh karena itu, hari ini merupakan saat yang paling
utama untuk mempertebal keimanan dan keislaman kita dengan cara tobat dan
bertaqarrub kepada Allah swt. Insya Allah taubat kita diterima Allah swt.
Pada hari ini Allah swt
membukakan pintu taubat bagi siapa saja, pada saat ini mari kita perhatikan
bakti kepada Allah, mumpung kita masih hidup. Mari kita perlihatkan bakti
kepada kedua orang tua, mumpung keduanya masih ada. Bagi yang telah
ditinggalkan oleh keduanya, mari kita doakan, mudah-mudahan mereka mendapat
tempat yang mulia di sisiNya, mari kita hubungi karib kerabat dan sahabatnya untuk bersilaturahmi. Dengan
cara itu, semoga kita termasuk anak-anak yang soleh
Hadirin kaum muslimin Rahimakumullah
Mengapa
kita diwajibkan memuliakan dan menghormati ayah dan ibu? Tak cukup waktu untuk
menjawabnya secara lengkap. Secara ringkas dapat kita rincikan bahwa ibu telah
mengandung kita Sembilan bulan lamanya, tak pernah merasa jengkel karena ada
jabang bayi dalam perutnya. Dirinya bersih dari pamrih, tak punya angan-angan
dan pengharapan ingin dibalas oleh anaknya. Sebaliknya , ibu merasa bahagia
bila anaknya bahagia, ibu pun merasa susah bila anak sedang susah. Lebih-lebih
bagi mereka orang berada. Akan tetapi, sekalipun mereka orang tak punya, si ibu
tidak berani makan sebelum anaknya makan, ia tak berani berpakaian bagus
sebelum anaknya dibelikan.
Pantaslah
air mata bahagia ibu menjadi rahmat dan jaminan kebahagiaan anaknya. Sebaliknya
air mata kepedihan seorang ibu karena ulah anaknya, akan menjadi laknat bagi
kehidupannya. Mengapa Uwais al Qarni yang hanya penggembala kanbing itu
dimuliakan Rasulullah? Sebab siang dan malam seluruh daya hidupnya diberikannya
hanya untuk ibunya, sebaliknya, Al Qamah tukang ibadah, tetapi amat sulit
menghembuskan nafasnya yang terkahir, sebab ia pernah menyakiti hati ibunya,
walaupun pada akhirnya ibunya memaafkan, dan Al Qamah mati dengan khusnul
hatimah
Bila
ibu menjadi tumpuan hidup, ayahpun demikian. Keringat ayah siang dan malam
membasahi tubuh karena mencari bekal buat hidup anak dan istrinya. Ayah merasa
bangga bila anak menjadi sarjana, walaupun ayah tak pernah menikmati bangku
sekolah.ayah bahagia bila anak menjadi orang kaya, walaupun ayah tetap miskin
papa.
Pengorbanan
seorang ayah tak ada tandingannya, baginya tak ada istilah hina dalam memilih
pekerjaan demi anak agar menjadi manusia paripurna. Akan tetapi, terkadang
diantara manusia ada yang merasa rendah diri dan merasa hina jika keadaan dan
penampilan ayahnya tidak sehebat ayah temannya. Padahal ayah sudah tak peduli
dengan keadaan dirinya, ia tidak lagi memperhatikan sehat dan sakit, bahkan
ayah sanggup mengorbankan diri hingga ajal, asal anak dan istri sehat dan
sejahtra
Kalau
kita hitung dengan penuh kesadaran, betapa ayah dan ibu mengorbankan segalanya
buat kita semua. Pantas Nabi saw. Menggariskan bahwa ridha dan benci Allah ada
pada ridho keduanya.Sidang id Rahimakumullah
Dalam suasana indah dan
mubarakah ini marilah kita sama-sama menghadapkan hati kita masing-masing
kehadirat Allah SWT seraya menadahkan tangan dan berdoa :
“ Ya Allah ya Rabbi, dihari raya ini
kami bersyukur atas segala nikmat yang telah engkau berikan kepada kami,
kenikmatan yang tiada putus-putusnya engkau curahkan keberkahan yang tiada
habis-habisnya, engkau limpahkan kepada kami, kami hamba mu datang bersimpuh
seraya memohon ampunan atas segala dosa dan salah kami, dosa yang telah kami
lakukan kepada orang tua kami, kepada sahabat-sahabat kami, saudara-saudara
kami dan terutama dosa kepada Mu.
Ya Allah pemegang hati kami, kami
memohon ampun dari segala kesalahan kotoran yang selama ini masih melekat
ditubuh ini kesalahan dan dosa-dosa yang dilakukan kepada kedua orang tua ayah
yang selama ini telah berusaha menghidupi kami membuat kami tumbuh dewasa menjadi manusia, dan kini ayah telah
memutih rambutnya, kulitnya telah habis dimakan sinar matahari, diguyur hujan,
panas, demi membesarkan kami. Maafkan dosa-dosa yang telah kami lakukan
kepadanya, berikan kami kesempatan untuk membalas budi baik ayah kami yang
masih hidup ini ya rabbi. Tapi untuk ayah kami yang telah meninggal sampaikan
doa-doa yang kami lafadzkan untuk beliau agar dialam sana dapat tempat yang
telah engkau janjikan, yaitu surga bukan tempat neraka jahanam yang ayahku akan kau siksa oleh azabMu
Ya rahman ya rahim, ampuni dosa yang
telah kami lakukan terhadap ibu yang telah mengandung, merawat, mendidik kami
hingga tumbuh dewasa, maafkan atas kesalahan kami selama ini sering kami
mencaci, membentak ini adalah kelakuan yang paling engkau laknat terhadap kami,
kami tidak menyadari betapa besar kasih sayang ibu yang dengan 9 bulan
mengandung kami, menjaga kami, dikeheningan malam beliau datang memeluk kami
untuk menghangat tubuh kami dan menetekkan air susunya sebagai rasa cintanya
kepada kami, tetapi kami hanya sering meneteskan air matanya karena dosa yang
telah kami lakukan. Inilah keburukan – keburukan kami, untuk ibu kami yang
telah meninggal berikanlah tempat yang
layak disisimu jangan engkau biarkan dia menanggung siksa Mu, karena kami tahu
Eengkau akan mengampuni dosanya dari doa-doa anak-anak yang soleh, orang-orang
yang soleh yang mendoakan kedua orang tuannya.
Ya rahman ya rahim,
kami membutuhkan belaian kasih Mu dalam kehidupan ini dan kematian kami nanti,
hadirlah dalam setiap detik kehidupan kami jangan biarkan kami tersesat, jangan
biarkan kami hidup dalam kegelapan ini, satukan hati dan langkah kami, jauhkan persengketaan, permusuhan yang
ada ditengah-tengah kami, inilah pinta dari hamba-hamba Mu yang membutuhkan
pertolongan pada siapa lagi kami memohon selain hanya kepada Mu ya Ilahi rabbi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar